- Pekan Gawai Dayak XL 2026 Dimulai, Teofelus Boni Ajak Kaum Muda Jaga Marwah Adat
- AJI Pontianak Desak Pemerintah Maksimalkan Diplomasi untuk Bebaskan Jurnalis Indonesia
- DPR Bahas RUU Desain Industri, Golkar Tekankan Perlindungan UMKM, IKM, dan Desainer Lokal
- Penetapan Tersangka terhadap Masyarakat Adat Penolak Aktivitas Tambang NHM Melanggar HAM
- Refleksi 13 Tahun Putusan MK 35, AMAN Kalsel Desak Pemerintah Percepat Penetapan Hutat Adat
- Pasien Terinfeksi Virus Hanta Meninggal Seusai Sehari Dirawat di Kalbar
- Pemahaman Empat Pilar Kebangsaan Terus Diperkuat di Kalteng
- Asik Nonton Pasutri Diserang Pemuda hingga Tewas di Kapuas Hulu
- Uskup Palangka Raya Grogi saat Misa Syukur Pesta Perak
- Hingga Maret 2026, anggaran MBG di Kalteng sudah mencapai Rp73 miliar
Uskup Palangka Raya Grogi saat Misa Syukur Pesta Perak

Keterangan Gambar : Uskup Keuskupan Palangka Raya Mgr Aloysius M Sutrisnaatmaka bersama sejumlah uskup mengikuti iring-iringan anak-anak menuju tempat digelarnya puncak pesta perak Pentahbisan Episcopal dirinya di Katedral Palangka Raya, Minggu (10/5/2026). Foto: Jwm
Uskup Keuskupan Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF mengaku sempat grogi saat melihat antusias umat, dan hadirnya Sekretaris Kedutaan Vatikan untuk Indonesia beserta belasan uskup dari berbagai daerah, saat misa syukur Pesta Perak Pentahbisan Episcopal dirinya.
Rasa grogi itu karena seluruh rangkaian acara pesta perak sedari awal sampai puncaknya sangat istimewa dan memberikan banyak kesan, kata Mgr Aloysius di Palangka Raya, Senin.
Baca Lainnya :
- Hingga Maret 2026, anggaran MBG di Kalteng sudah mencapai Rp73 miliar0
- Contoh judul berita online nyata terpercaya0
- Contoh judul berita online nyata terpercaya0
- Contoh judul berita online nyata terpercaya0
- Contoh judul berita online nyata terpercaya0
"Jadi, saya mencoba tetap tenang agar tidak terlihat grogi. Aslinya grogi juga," tambahnya.
Petinggi umat Katolik Kalteng itu pun membenarkan pakaian yang dipakai dirinya saat Misa Syukur, sama persis 25 tahun silam ketika Pentahbisan sebagai Uskup Keuskupan Palangka Raya.
"Kalau ditelisik lebih jauh, sepatu yang saya pakai saat ini, sama persis 25 tahun silam. Kalau tidak percaya, silahkan lihat di video Pentahbisan yang diputar tadi," beber Mgr Aloysius.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pesta Perak sekaligus Vikjen Keuskupan Palangka Raya Pastor Silvanus Subandi mengenang awal kedatangan Mgr Aloysius ke Kalimantan Tengah pada Mei 2001. Di mana ketika itu, provinsi ini masih berada dalam suasana pasca-krisis yang penuh tantangan.
"Rasanya baru kemarin, karena saya pun terlibat dalam kepanitiaan 25 tahun yang lalu. Saat itu kita masih diliputi suasana tegang pasca-krisis. Kehadiran beliau membawa pesan damai dan semangat kebersamaan," beber Pastor Subandi.
Semangat perdamaian itu, lanjutnya, tercermin melalui berdirinya Seminari Menengah Raja Damai di belakang Gereja Katedral Palangka Raya. Nama 'Raja Damai' dipilih sebagai simbol harapan, agar masyarakat terus bertumbuh dalam persaudaraan dan melupakan luka masa lalu.
Dalam 25 tahun kepemimpinannya, Mgr Aloysius juga dinilai berhasil membawa Gereja Katolik semakin dekat dengan masyarakat, terutama melalui pelayanan sosial dan kesehatan. Salah satunya ditandai dengan hadirnya Rumah Sakit Primaya Betang Pambelum.
"Kehadiran rumah sakit ini bukan semata dimensi bisnis kesehatan, tetapi bentuk pelayanan gereja kepada masyarakat demi peningkatan kualitas hidup," demikian Pastor Subandi.






.jpg)
